Senin, 28 Desember 2015

Analisis Jurnal Motivasi


Tugas Review Jurnal

Kelompok         :  Mawar
Nama Anggota : 

  • Anisa Alyela                       19513947 
  • Dima Septiana Putri            12513466 
  • Hasna Putri anggraini          13513977 
  • Nadya Laksmitha D.W        16513296 
  • Silvi Rahmadianti                18513486  
Kelas:   3PA02




Tugas Review Jurnal


Judul                           : Pengaruh Motivasi Kerja, Kepuasan Kerja, dan Komitmen            
                                     Organisasional Terhadap Kinerja Pegawai
Jurnal                          : Jurnal PIO
Volume & Halaman    : Vol. 5 No. 1 Juli 2011: 75-86
Tahun                          : 2011
Penulis                         : Suwardi dan Joko Utomo

1.  Latar Belakang
            Menurut Deassler (1993 : 5), motivasi adalah keadaan dalam diri seseorang yang terdorong oleh keongonan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Motivasi menurut Hiejrahman dan Husnan (1992 : 37) adalah suatu proses untuk mencoba mempengaruhi seseorang agar melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita. Kartono (1981 : 257) mengatakan motivasi adalah sebab, alasan dasar, pikiran dasar, dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau ide pokok yang selalu berpengaruh besar terhadap tingkah laku manusia. Morrison (1993) memberikan pengertian motivasi sebagai kecenderungan seseorang melibatkan diri dalam kegiatan yang mengarah sasaran. Jika perilaku tersebut mengarah pada suatu obyek atau sasarannya maka dengan motivasi tersebut akan diperoleh pencapaian target atau sasaran yang sebesar-besarnya sehingga pelaksanaan tugas dapat dikerjakan dengan sebaik-baiknya, sehingga efektivitas kerja dapat tercapai. Motivasi adalah salah satu karakteristik psikologis manusia yang memberikan kontribusi pada tingkat komitmen seseorang, termasuk didalamnya faktor-faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan menopang perilaku manusia pada sebuah arah tertentu yang dilakukan (Stoner, 1995). Motivasi sebagaimana didefinisikan Robbins merupakan kemauan untuk menggunakan usaha tingkat tinggi untuk tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan usaha untuk memenuhi beberapa kebutuhan individu (Robbins, 1998). Dalam definisi ini ada tiga elemen penting yaitu usaha, tujuan organisasi, dan kebutuhan.
            Kepuasan kerja mempunyai peran penting dalam rangka mendukung tercapainya tujuan instansi. Kepuasan kerja memberikan sumbangan yang besar terhadap keefektifan organisasi, serta merangsang semangat kerja dan loyalitas. Menurut Drs. Tjihno Windryanto, M.Si (2004 : 80) Kepuasan kerja atau job satisfaction pada dasarnya merupakan keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, dan para karyawan memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya dan ini nampak pada perilaku dan sikap pegawai dalam kehidupan sehari-hari, biasanya tijunjukkan dalam hal tanggapan yang positif dalam bekerja. Perlu disadari bahwa kepuasan kerja merupakan faktor yang mendorong pegawai/karyawan lebih giat bekerja dan sekaligus sebagai motivasi dalam bekerja. Kepuasan kerja sering kali disamakan dengan sikap seseorang terhadap pekerjaan (Miner , 1998). Sikap tersebut diartikan sebagai tingkat perasaan positif atau negatif yang dirasakan seseorang terhadap obyek tertentu seperti tempat, benda atau orang lain. Robbins (1996) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai sikap secara umum dan tingkat perasaan positif sesorang terhadap pekerjaannya.
            Komitmen organisasional membahas kedekatan karyawan terhadap organisasi dimana mereka berada (Laschinger, 2001 : 10). Konsep komitmen organisasional memiliki tiga aspek yaitu percaya dan menerima tujuan/nilai organisasi; rela berusaha mencapai tujuan organisasi; dan memiliki keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi. Komitmen organisasional menurut Gibson (1997) adalah identifikasi rasa, keterlibatan loyalitas yang ditampakkan oleh pekerja terhadap organisasinya atau unit organisasi. Komitmen organisasional ditunjukkan dalam sikap penerimaan, keyakinan, yang kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan sebuah organisasi, begitu juga adanya dorongan yang kuat untuk mempertahankan kenggotaan dalam organisasi demi tercapainya tujuan organisasi.
            Meyer, Allen & Gellatly (dalam Greeberg & Baron, 1995) mengidentifikasi komitmen 79 Analisis Manajemen Vol. 5 No. 1 Juli 2011 organisasional dalam tiga kajian yaitu : Komitmen sebagai attachment untuk organisasi; Komitmen dengan pertimbangan biaya apabila meninggalkan organisasi dan; Komitmen sebagai suatu obligation untuk menetap di dalam organisasi. Mitchel (1982) memandang komitmen organisasional sebagai suatu orientasi nilai terhadap kerja yang menunjukkan individu sangat memikirkan pekerjaannya, sebab pekerjaan memberikan kepuasan hidup dan memberikan suatu status bagi individu. Konsep tentang komitmen organisasional, berkembang dari studi awal mengenai loyalitas pada pegawai yang diharapkan ada pada diri pegawai tersebut. Keterikatan kerja yang erat merupakan suatu kondisi yang dirasakan para pegawai yang dapat menimbulkan perilaku positif yang kuat terhadap organisasi yang dimiliki. Mowdey (1982) mendefinisikan komitmen kerja sebagai kekuatan relative dan identifikasi individu dan keterlibatan dengan organisasi kerja. Suatu telaah dari Mowdey menunjukkan bahwa komitmen kerja merupakan predictor turnover yang cukup reliabel, pegawai dengan komitmen tinggi biasanya lebih tahan bekerja serta produktif dan berorientasi kearah pencapaian tujuan organisasi yang bersangkutan.

2.  Tujuan
Penelitian dilakukan untuk menguji pengaruh variabel motivasi kerja (X1), kepuasan kerja (X2) dan komitmen organisasional (X3) terhadap kinerja pegawai (Y) dilingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Pati yang mencakup 9 bagian, dimana menurut data terakhir jumlah populasi sebanyak 312 orang. Sampel dilakukan secara Proporsional Random Sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan perbandingan. Peneliti memproporsionalkan jumlah populasi berdasarkan jumlah pegawai yang ada dimasing-masing Bagian dilingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Pati. Berdasarkan perhitungan dengan rumus Slovin jumlah sampel sebanyak 76 orang. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa hipotesis (H1) yang menyatakan bahwa motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja dan hipotesis (H2) yang menyatakan bahwa kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja serta hipotesis (H3) yang menyatakan komitmen organisasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja, diterima. Demikian juga hipotesis (H4) yang menyatakan bahwa motivasi, kepuasan, dan komitmen organisasional secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja, diterima. Hasil pengujian ini dapat dimaknai bahwa pegawai yang memiliki motivasi dan kepuasan kerja yang tinggi, maka akan cenderung mempunyai kinerja yang tinggi terhadap organisasi. Untuk mencapai kinerja yang tinggi, maka motivasi dan kepuasan kerja pegawai di Sekretariat Daerah Kabupaten Pati harus ditingkatkan.

3.  Metode
Setelah menidentifikasi variabel dalam suatu masalah dan mengembangkan kerangka teoritis, langkah berikutnya adalah mendesain data yang diperlukan dapat dikumpulkan dan dianalisis untuk sampai pada solusi (Uma Sekaran, 2001 : 152). Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat riset dilakukan dengan memeriksa sebab-sebab dari suatu permasalahan yang muncul ( Husein Umar, 2000 : 22 ). Selain itu, keputusan harus dibuat, misalnya mengenai jenis sampel yang digunakan (desain sampel), bagaimana data dikumpulkan (metode pengumpulan data), bagaimana variabel diukur (pengukur), dan bagaimana variabel dianalisis untuk menguji hipotesis (analisis data). (Uma Sekaran, 2001 : 152). Datadata yang diambil dalam penelitian ini adalah mengenai variabel leader member exchange, motivasi dan komitmen organisasional dan kinerja pegawai serta data-data / catatan-catatan lain yang mendukung variabel tersebut.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 1999 : 67). Dalam suatu penelitian, populasi yang dipilih berhubungan erat dengan masalah yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan Sekretariat Daerah Kabupaten Pati yang berjumlah 312 orang. Karena keterbatasan yang ada, maka peneliti tidak menganalisis seluruh populasi. Sebagian dari jumlah populasi diambil sebagai sampel. Sampel penelitian dilakukan menggunakan metode Proportional Random Sampling yaitu didalam pengambilan sampel berdasarkan perbandingan (Wiyono, 1999 : 484). Peneliti memproporsionalkan jumlah populasi berdasarkan jumlah pegawai yang ada di masing-masing Bagian di Sekretariat Daerah Kabupaten Pati. Dari populasi karyawan Sekretariat Daerah Kabupaten Pati yang berjumlah 312 karyawan, sampel yang diambil sebanyak 76 (tujuh puluh enam) orang yaitu dengan cara proporsi dari jumlah pegawai yang ada di tiap-tiap Bagian Sekretariat Daerah Kabupaten Pati.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Pada penelitian ini data primer diperoleh dari jawaban kuesioner yang dibagikan kepada responden. Kuesioner dibagikan kepada 76 (tujuh puluh enam) orang responden yang merupkan pegawai di Sekretariat Daerah Kabupaten Pati. Kuesioner tersebut merupakan alat yang digunakan untuk mengetahui tanggapan responden terhadap motivasi kerja, kepuasan kerja, komitmen organisasional dan kinerja.
Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari buku-buku, laporan-laporan dan dokumen yang berhubungan dengan variabel yang diteliti. Data yang diambil guna mendukung penelitian adalah data kepegawaian dan data absensi pegawai di Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Pati.
Pengujian hipotesis pertama dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda karena faktor yang dikehendaki yaitu faktor motivasi kerja, kepuasan kerja dan komitmen organisasional. Dengan menggunakan analisis ini diperoleh hasil pengolahan data untuk menguji hipotesis pertama. Hipotesis pertama diuji dengan mengunakan uji t dan koefisien determinasi (R2) (Subiyakto, 1995, h. 187-124) untuk menentukan tingkat signifikan faktor-faktor motivasi kerja, kepuasan kerja dan komitmen organisasional terhadap kinerja pegawai di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pati sebagai berikut:
Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh suatu variabel penjelas/independent secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.
Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh secara simultan antara variabel-variabel independent (X) terhadap variabel dependent (Y). Berdasarkan hasil pengolahan data jika F hitung untuk variabel dependent terhadap independent lebih besar dibandingkan dengan F tabel (F-hit > F-tab) maka hipotesis Ha diterima, artinya ada pengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama antara variabel independent terhadap variabel dependent.
Untuk mengetahui sejauh mana ketepatan atau kecocokan suatu garis regresi sampel dalam mencocokkan sekumpulan data, diperlukan suatu ukuran lazim yang dinamakan koefisien determinasi (R2 ). Dalam Gujarati (1991) bahwa koefisien determinasi (R2 ) merupakan ukuran seberapa baik garis regresi mencocokkan data (a measure of the goodness of fit). Secara verbal, koefisien determinasi mengukur proporsi atau persentase total variasi dalam variabel tak bebas yang dijelaskan oleh variabelvariabel bebas secara bersama-sama dalam model regresi.
4.  Hasil  
            Dari tabel ANOVA pada output SPSS, dapat disimpulkan bahwa dengan tingkat kepercayaan 95 persen model ini signifikan dengan nilai F sebesar 41,938 derajat bebas yang dimiliki adalah 3 dan 72, serta tingkat signifikansi adalah 0,000 lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti jika diuji secara bersamasama maka minimal ada satu dari ketiga variabel bebas yaitu: Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisasional memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja. Dengan kata lain Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisasional secara bersama-sama berpengaruh terhadap Kinerja.
            Dari hasil pengujian dengan tingkat kepercayaan 95 persen ternyata variabel Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisaional yang memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap Kinerja. Sedangkan konstanta tidak signifikan terhadap Kinerja. Hal ini dapat dilihat dari probabilitas signifikansi untuk variabel Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisasional sebesar 0,007; 0,006, dan 0,009 jauh di bawah 0,05. Sedangkan konstanta memiliki probabilitas signifikansi sebesar 0,410 jauh di atas 0,05. dari sini dapat disimpulkan bahwa variabel Kinerja dipengaruhi oleh Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisasioanl.
            Dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95 persen, model yang diperoleh dapat digunakan untuk meramalkan besarnya skor Kinerja. Berdasarkan hasil output SPSS, terlihat bahwa nilai R2 yang diperoleh adalah 0,636. Hal ini berarti bahwa proporsi keragaman skor Kinerja yang dapat dijelaskan oleh ketiga variabel bebas yaitu Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisasional adalah sebesar 63,6 persen dan sisanya dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Pada regresi dengan dua atau lebih variabel bebas, digunakan Adjusted R2 (R2 yang disesuaikan) sebagai koefisien determinasi. Dari output SPSS diketahui besarnya Adjusted R2 adalah 0,621. Semakin besar R2 yang disesuaikan akan semakin baik bagi model regresi karena variabel bebas dapat menjelaskan variabel terikat lebih besar. Dalam menentukan interpretasi nilai adjusted R2, peneliti juga memperhatikan relevansi logis atau teoritis dari variabel yang menjelaskan dengan variabel terikat. Apabila dalam proses ini diperoleh adjusted R2 yang tinggi, maka hal yang bagus, akan tetapi adjusted R2 rendah tidak berarti model tersebut jelek. (Gujarati, 1995: 102)
            Berdasarkan output SPSS maka didapatkan persamaan model regresi linear adalah sebagai berikut:
Kinerja = 0,438 + 0,257 Mot + 0,321 Puas + 0,393 Kom
Persamaan di atas menunjukkan bahwa:
1. Variabel Motivasi memiliki korelasi positif dengan Kinerja. Koefisien regresi Motivasi sebesar 0,257 menyatakan bahwa secara signifikan kenaikan skor Motivasi sebesar satu satuan akan meningkatkan skor Kinerja sebesar 0,257 satuan dengan asumsi variabel lainnya tetap.
2. Variabel Kepuasan memiliki korelasi positif dengan Kinerja. Koefisien regresi Kepuasan sebesar 0,321 menyatakan bahwa secara signifikan kenaikan skor Kepuasan sebesar satu satuan akan meningkatkan skor Kinerja sebesar 0,321 satuan dengan asumsi variabel lainnya tetap.
3. Variabel Komitmen Organisasional memiliki korelasi positif dengan Kinerja. Koefisien regresi Komitmen Organisasional sebesar 0,393 menyatakan bahwa secara signifikan kenaikan skor
Komitmen Organisasional sebesar satu satuan akan meningkatkan skor Kinerja sebesar 0,393 satuan dengan asumsi variabel lainnya tetap.

5. Kesimpulan
            Dari analisis data yang dilakukan, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah:
1. Variabel motivasi dengan dimensi usaha, tujuan organisasi, dan kebutuhan terbukti secara signifikan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati dengan item paling baik adalah tantangan pekerjaan dapat diartikan bahwa para pegawai merasa bahwa pekerjaan di Sekretariat Daerah Kabupaten Pati menantang dan menyenangkan. 
2. Variabel kepuasan kerja dengan dimensi rewards (penghargaan), hubungan kerja, dan aktualisasi diri terbukti secara signifikan memiliki pengaruh positif terhadap kinerja pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati dengan item paling baik adalah kemandirian kerja dapat diartikan bahwa pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan mandiri. 
3. Variabel komitmen organisasional dengan dimensi afektif, normative, dan continuence terbukti secara signifikan memiliki pengaruh positif terhadap kinerja pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati dengan item paling bagus adalah yang diperoleh dalam organisasi, yaitu pegawai merasa akan banyak memperoleh manfaat jika tetap bekerja di Sekretariat Daerah Kabupaten Pati.

4. Secara bersama-sama variabel motivasi, kepuasan, dan komitmen organisasional terbukti secara signifikan memiliki pengaruh positif terhadap kinerja pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati.

Analisis Jurnal Motivasi

Kelompok         :  Mawar
Nama Anggota : 

  • Anisa Alyela                       19513947 
  • Dima Septiana Putri            12513466 
  • Hasna Putri anggraini          13513977 
  • Nadya Laksmitha D.W        16513296 
  • Silvi Rahmadianti                18513486  






Kelas:   3PA02
 
Tugas Review Jurnal





Judul                           : Pengaruh Motivasi Kerja, Kepuasan Kerja, dan Komitmen            

                                     Organisasional Terhadap Kinerja Pegawai

Jurnal                          : Jurnal PIO

Volume & Halaman    : Vol. 5 No. 1 Juli 2011: 75-86

Tahun                          : 2011

Penulis                         : Suwardi dan Joko Utomo



1.  Latar Belakang

Menurut Deassler (1993 : 5), motivasi adalah keadaan dalam diri seseorang yang terdorong oleh keongonan 
individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Motivasi menurut Hiejrahman dan 
Husnan (1992 : 37) adalah suatu proses untuk mencoba mempengaruhi seseorang agar melakukan sesuatu  
yang sesuai dengan keinginan kita. Kartono (1981 : 257) mengatakan motivasi adalah sebab, alasan dasar, 
pikiran dasar, dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau ide pokok yang selalu berpengaruh besar terhadap 
tingkah laku manusia. Morrison (1993) memberikan pengertian motivasi sebagai kecenderungan seseorang 
melibatkan diri dalam kegiatan yang mengarah sasaran. Jika perilaku tersebut mengarah pada suatu obyek atau 
sasarannya 

maka dengan motivasi tersebut akan diperoleh pencapaian target atau sasaran yang sebesar-besarnya sehingga 
pelaksanaan tugas dapat dikerjakan dengan sebaik-baiknya, sehingga efektivitas kerja dapat tercapai. Motivasi 
adalah salah satu karakteristik psikologis manusia yang memberikan kontribusi pada tingkat komitmen 
seseorang, termasuk didalamnya faktor-faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan menopang perilaku 
manusia pada sebuah arah tertentu yang dilakukan (Stoner, 1995). Motivasi sebagaimana didefinisikan Robbins 
merupakan kemauan untuk menggunakan usaha tingkat tinggi untuk tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh 
kemampuan usaha untuk memenuhi beberapa kebutuhan individu (Robbins, 1998). Dalam definisi ini ada tiga 
elemen penting yaitu usaha, tujuan organisasi, dan kebutuhan.


Kepuasan kerja mempunyai peran penting dalam rangka mendukung tercapainya tujuan instansi. Kepuasan 
kerja memberikan sumbangan yang besar terhadap keefektifan organisasi, serta merangsang semangat kerja 
dan loyalitas. Menurut Drs. Tjihno Windryanto, M.Si (2004 : 80) Kepuasan kerja atau job satisfaction pada 
dasarnya merupakan keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, dan para karyawan 
memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya dan 
ini nampak pada perilaku dan sikap pegawai dalam kehidupan sehari-hari, biasanya tijunjukkan dalam hal 
tanggapan yang positif dalam bekerja. Perlu disadari bahwa kepuasan kerja merupakan faktor yang mendorong 
pegawai/karyawan lebih giat bekerja dan sekaligus sebagai motivasi dalam bekerja. Kepuasan kerja sering kali 
disamakan dengan sikap seseorang terhadap pekerjaan (Miner , 1998). Sikap tersebut diartikan sebagai tingkat 
perasaan positif atau negatif yang dirasakan seseorang terhadap obyek tertentu seperti tempat, benda atau 
orang lain. Robbins (1996) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai sikap secara umum dan tingkat perasaan 
positif sesorang terhadap pekerjaannya.


Komitmen organisasional membahas kedekatan karyawan terhadap organisasi dimana mereka berada 
(Laschinger, 2001 : 10). Konsep komitmen organisasional memiliki tiga aspek yaitu percaya dan menerima 
tujuan/nilai organisasi; rela berusaha mencapai tujuan organisasi; dan memiliki keinginan yang kuat untuk tetap 
menjadi anggota organisasi. Komitmen organisasional menurut Gibson (1997) adalah identifikasi rasa, 
keterlibatan loyalitas yang ditampakkan oleh pekerja terhadap organisasinya atau unit organisasi. Komitmen 
organisasional ditunjukkan dalam sikap penerimaan, keyakinan, yang kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan 
sebuah organisasi, begitu juga adanya dorongan yang kuat untuk mempertahankan kenggotaan 
dalam organisasi demi tercapainya tujuan organisasi.


Meyer, Allen & Gellatly (dalam Greeberg & Baron, 1995) mengidentifikasi komitmen 79 Analisis Manajemen 
Vol. 5 No. 1 Juli 2011 organisasional dalam tiga kajian yaitu : Komitmen sebagai attachment untuk organisasi; 
Komitmen dengan pertimbangan biaya apabila meninggalkan organisasi dan; Komitmen sebagai suatu 
obligation untuk menetap di dalam organisasi. Mitchel (1982) memandang komitmen organisasional sebagai 
suatu orientasi nilai terhadap kerja yang menunjukkan individu sangat memikirkan pekerjaannya, sebab 
pekerjaan memberikan kepuasan hidup dan memberikan suatu status bagi individu. Konsep tentang komitmen 
organisasional, berkembang dari studi awal mengenai loyalitas pada pegawai yang diharapkan ada pada diri 
pegawai tersebut. Keterikatan kerja yang erat merupakan suatu kondisi yang dirasakan para pegawai 
yang dapat menimbulkan perilaku positif yang kuat terhadap organisasi yang dimiliki. Mowdey (1982) 
mendefinisikan komitmen kerja sebagai kekuatan relative dan identifikasi individu dan keterlibatan dengan 
organisasi kerja. Suatu telaah dari Mowdey menunjukkan bahwa komitmen kerja merupakan predictor turnover 
yang cukup reliabel, pegawai dengan komitmen tinggi biasanya lebih tahan bekerja serta produktif dan 
berorientasi kearah pencapaian tujuan organisasi yang bersangkutan.



2.  Tujuan

Penelitian dilakukan untuk menguji pengaruh variabel motivasi kerja (X1), kepuasan kerja (X2) dan komitmen
organisasional (X3) terhadap kinerja pegawai (Y) dilingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Pati yang 
mencakup 9 bagian, dimana menurut data terakhir jumlah populasi sebanyak 312 orang. Sampel dilakukan 
secara Proporsional Random Sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan perbandingan. Peneliti 
memproporsionalkan jumlah populasi berdasarkan jumlah pegawai yang ada dimasing-masing Bagian 
dilingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Pati. Berdasarkan perhitungan dengan rumus Slovin jumlah sampel 
sebanyak 76 orang. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa hipotesis (H1) yang menyatakan bahwa 
motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja dan hipotesis (H2) yang menyatakan bahwa 
kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja serta hipotesis (H3) yang menyatakan 
komitmen organisasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja, diterima. Demikian juga 
hipotesis (H4) yang menyatakan bahwa motivasi, kepuasan, dan komitmen organisasional secarabersama-sama 
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja, diterima. Hasil pengujian ini dapat dimaknai bahwa 
pegawai yang memiliki motivasi dan kepuasan kerja yang tinggi, maka akan cenderung mempunyai kinerja yang 
tinggi terhadap organisasi. Untuk mencapai kinerja yang tinggi, maka motivasi dan kepuasan kerja pegawai di 
Sekretariat Daerah Kabupaten Pati harus ditingkatkan.



3.  Metode

Setelah menidentifikasi variabel dalam suatu masalah dan mengembangkan kerangka teoritis, langkah 
berikutnya adalah mendesain data yang diperlukan dapat dikumpulkan dan dianalisis untuk sampai pada solusi 
(Uma Sekaran, 2001 : 152). Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu bertujuan untuk 
menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat riset dilakukan dengan memeriksa
sebab-sebab dari suatu permasalahan yang muncul ( Husein Umar, 2000 : 22 ). Selain itu, keputusan harus 
dibuat, misalnya mengenai jenis sampel yang digunakan (desain sampel), bagaimana data 
dikumpulkan (metode pengumpulan data), bagaimana variabel diukur (pengukur), dan bagaimana variabel 
dianalisis untuk menguji hipotesis (analisis data). (Uma Sekaran, 2001 : 152). Datadata yang diambil dalam 
penelitian ini adalah mengenai variabel leader member exchange, motivasi dan komitmen organisasional dan 
kinerja pegawai serta data-data / catatan-catatan lain yang mendukung variabel tersebut.


Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan 
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 
1999 : 67). Dalam suatu penelitian, populasi yang dipilih berhubungan erat dengan masalah yang diteliti. 
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan Sekretariat Daerah Kabupaten Pati yang berjumlah 312 
orang. Karena keterbatasan yang ada, maka peneliti tidak menganalisis seluruh populasi. Sebagian dari jumlah 
populasi diambil sebagai sampel. Sampel penelitian dilakukan menggunakan metode Proportional Random 
Sampling yaitu didalam pengambilan sampel berdasarkan perbandingan (Wiyono, 1999 : 484). Peneliti 
memproporsionalkan jumlah populasi berdasarkan jumlah pegawai yang ada di masing-masing Bagian di 
Sekretariat Daerah Kabupaten Pati. Dari populasi karyawan Sekretariat Daerah Kabupaten Pati yang berjumlah 
312 karyawan, sampel yang diambil sebanyak 76 (tujuh puluh enam) orang yaitu dengan cara proporsi dari 
jumlah pegawai yang ada di tiap-tiap Bagian Sekretariat Daerah Kabupaten Pati.


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari 
sumbernya. Pada penelitian ini data primer diperoleh dari jawaban kuesioner yang dibagikan kepada responden. 
Kuesioner dibagikan kepada 76 (tujuh puluh enam) orang responden yang merupkan pegawai di Sekretariat 
Daerah Kabupaten Pati. Kuesioner tersebut merupakan alat yang digunakan untuk mengetahui tanggapan 
responden terhadap motivasi kerja, kepuasan kerja, komitmen organisasional dan kinerja.

Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari buku-buku, laporan-laporan dan dokumen yang berhubungan 
dengan variabel yang diteliti. Data yang diambil guna mendukung penelitian adalah data kepegawaian dan data 
absensi pegawai di Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Pati.


Pengujian hipotesis pertama dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda karena faktor yang 
dikehendaki yaitu faktor motivasi kerja, kepuasan kerja dan komitmen organisasional. Dengan menggunakan 
analisis ini diperoleh hasil pengolahan data untuk menguji hipotesis pertama. Hipotesis pertama diuji dengan 
mengunakan uji t dan koefisien determinasi (R2) (Subiyakto, 1995, h. 187-124) untuk menentukan tingkat 
signifikan faktor-faktor motivasi kerja, kepuasan kerja dan komitmen organisasional terhadap kinerja pegawai di 
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pati sebagai berikut:


Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh suatu variabel penjelas/independent secara individual dalam
menerangkan variasi variabel dependen.

Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh secara simultan antara variabel-variabel independent (X) terhadap 
variabel dependent (Y). Berdasarkan hasil pengolahan data jika F hitung untuk variabel dependent terhadap 
independent lebih besar dibandingkan dengan F tabel (F-hit > F-tab) maka hipotesis Ha diterima, artinya ada 
pengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama antara variabel independent terhadap variabel dependent.

Untuk mengetahui sejauh mana ketepatan atau kecocokan suatu garis regresi sampel dalam mencocokkan 
sekumpulan data, diperlukan suatu ukuran lazim yang dinamakan koefisien determinasi (R2 ). Dalam Gujarati 
(1991) bahwa koefisien determinasi (R2 ) merupakan ukuran seberapa baik garis regresi mencocokkan data (a 
measure of the goodness of fit). Secara verbal, koefisien determinasi mengukur proporsi atau persentase total 
variasi dalam variabel tak bebas yang dijelaskan oleh variabelvariabel bebas secara bersama-sama dalam model 
regresi.


4.  Hasil  

Dari tabel ANOVA pada output SPSS, dapat disimpulkan bahwa dengan tingkat kepercayaan 95 persen model 
ini signifikan dengan nilai F sebesar 41,938 derajat bebas yang dimiliki adalah 3 dan 72, 
serta tingkat signifikansi adalah 0,000 lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti jika diuji secara bersamasama maka 
minimal ada satu dari ketiga variabel bebas yaitu: Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisasional memiliki 
pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja. Dengan kata lain Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisasional 
secara bersama-sama berpengaruh terhadap Kinerja.

            
Dari hasil pengujian dengan tingkat kepercayaan 95 persen ternyata variabel Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen 
Organisaional yang memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap Kinerja. Sedangkan konstanta tidak 
signifikan terhadap Kinerja. Hal ini dapat dilihat dari probabilitas signifikansi untuk variabel Motivasi, 
Kepuasan, dan Komitmen Organisasional sebesar 0,007; 0,006, dan 0,009 jauh di bawah 0,05. Sedangkan 
konstanta memiliki probabilitas signifikansi sebesar 0,410 jauh di atas 0,05. dari sini dapat disimpulkan bahwa 
variabel Kinerja dipengaruhi oleh Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisasioanl.

            
Dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95 persen, model yang diperoleh dapat digunakan untuk 
meramalkan besarnya skor Kinerja. Berdasarkan hasil output SPSS, terlihat bahwa nilai R2 yang diperoleh 
adalah 0,636. Hal ini berarti bahwa proporsi keragaman skor Kinerja yang dapat dijelaskan oleh ketiga variabel 
bebas yaitu Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisasional adalah sebesar 63,6 persen dan 
sisanya dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Pada regresi dengan 
dua atau lebih variabel bebas, digunakan Adjusted R2 (R2 yang disesuaikan) sebagai koefisien determinasi. Dari 
output SPSS diketahui besarnya Adjusted R2 adalah 0,621. Semakin besar R2 yang disesuaikan akan semakin 
baik bagi model regresi karena variabel bebas dapat menjelaskan variabel terikat lebih besar. Dalam menentukan 
interpretasi nilai adjusted R2, peneliti juga memperhatikan relevansi logis atau teoritis dari variabel yang 
menjelaskan dengan variabel terikat. Apabila dalam proses ini diperoleh adjusted R2 yang tinggi, maka hal yang 
bagus, akan tetapi adjusted R2 rendah tidak berarti model tersebut jelek. (Gujarati, 1995: 102)


            Berdasarkan output SPSS maka didapatkan persamaan model regresi linear adalah sebagai berikut:

Kinerja = 0,438 + 0,257 Mot + 0,321 Puas + 0,393 Kom

Persamaan di atas menunjukkan bahwa:


1. Variabel Motivasi memiliki korelasi positif dengan Kinerja. Koefisien regresi Motivasi sebesar 0,257 
menyatakan bahwa secara signifikan kenaikan skor Motivasi sebesar satu satuan akan meningkatkan 
skor Kinerja sebesar 0,257 satuan dengan asumsi variabel lainnya tetap.


2. Variabel Kepuasan memiliki korelasi positif dengan Kinerja. Koefisien regresi Kepuasan sebesar 0,321 
menyatakan bahwa secara signifikan kenaikan skor Kepuasan sebesar satu satuan akan meningkatkan skor 
Kinerja sebesar 0,321 satuan dengan asumsi variabel lainnya tetap.


3. Variabel Komitmen Organisasional memiliki korelasi positif dengan Kinerja. Koefisien regresi Komitmen 
Organisasional sebesar 0,393 menyatakan bahwa secara signifikan kenaikan skor

Komitmen Organisasional sebesar satu satuan akan meningkatkan skor Kinerja sebesar 0,393 satuan dengan 
asumsi variabel lainnya tetap.



5. Kesimpulan


            Dari analisis data yang dilakukan, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah:


1. Variabel motivasi dengan dimensi usaha, tujuan organisasi, dan kebutuhan terbukti secara signifikan memiliki 
pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati dengan item paling 
baik adalah tantangan pekerjaan dapat diartikan bahwa para pegawai merasa bahwa pekerjaan di Sekretariat 
Daerah Kabupaten Pati menantang dan menyenangkan. 


2. Variabel kepuasan kerja dengan dimensi rewards (penghargaan), hubungan kerja, dan aktualisasi diri terbukti 
secara signifikan memiliki pengaruh positif terhadap kinerja pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati dengan 
item paling baik adalah kemandirian kerja dapat diartikan bahwa pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati 
dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan mandiri. 


3. Variabel komitmen organisasional dengan dimensi afektif, normative, dan continuence terbukti secara 
signifikan memiliki pengaruh positif terhadap kinerja pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati dengan item 
paling bagus adalah yang diperoleh dalam organisasi, yaitu pegawai merasa akan banyak memperoleh manfaat 
jika tetap bekerja di Sekretariat Daerah Kabupaten Pati.



4. Secara bersama-sama variabel motivasi, kepuasan, dan komitmen organisasional terbukti secara signifikan 
memiliki pengaruh positif terhadap kinerja pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati.