Wanita jaman sekarang bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh kaum pria. Perlu diketahui bahwa fenomena wanita berperan ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus bekerja diluar rumah, dan juga sebagai pemimpin wanita sebenarnya sudah ada sejak dulu. Pada awal abad 19, di luar negri yang sebelumnya berfungsi sebagai pekerja terampil pada usaha-usaha rumah tangga yang memproduksi sampai memasarkan mulai beralih. Dampak dari revolusi industri membuat wanita banyak berpaling untuk melakukan pekerjaan diluar rumah untuk menghidupi dan menambah penghasilan rumah tangga.
Bekerja bagi setiap wanita adalah pilihan. Gerson (1985, dalam Nainggolan, dkk, 1996:78) menyatakan bahwa keputusan wanita untuk beerja dipengaruhi oleh faktor yang sifatnya komulatif, interaktif dan terus berkembang dipengaruhi baik secara langsung atau tidak dari masyarakat, keluarga dan diri sendiri sehubungan dengan harapan-harapan tertentu peran wanita yang sekaligus ibu. Keputusan untuk mengambil 2 peran berbeda yaitu di rumah tangga dan di tempat kerja tentu diikuti dengan tuntutan dari dalam diri sendiri dan masyarakat. Tuntutan dari diri sendiri dan sosial ini menyerukan hal yang sama yaitu keberhasilan dalam dua peranan tersebut.
Ada subuah penelitian yang menguji tentang perbedaan coping stres yaitu problem focused coping, emotion focused coping dan religion coping antara perawat pria dan perawat wanita. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah coping stres dan variabel bebasnya jenis kelamin. Skala coping stres disusun berdasarkan jenis-jenis coping yang dikemukakan oleh Carver, Scheier dan Weintraub (1989) serta Pargament (1997). Penelitian ini dilakukan pada 50 orang perawat pria dan 50 orang perawat wanita. Subjek penelitian ini adalah perawat yang berjenis kelamin pria dan wanita berusia antara 25-36 tahun dan telah bekerja minimal selama 6 bulan. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan uji Independent Sample t Test, diketahui bahwa untuk problem focused coping sebesar 0.682 (p > 0.05), emotion focused coping 0.473 (p > 0.05), dan religion coping sebesar 0.289 (p > 0.05) Dari nilai tersebut, maka dapat dikatakan hipotesis penelitian ini ditolak yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan pada pemilihan coping stres baik itu problem focused coping, emotion focused coping, dan religion coping pada perawat pria dan perawat wanita
PEREMPUAN hidup di dunia yang cepat dan penuh tuntutan, dan sangat berbeda saat kecil. Semua orang berkata, pekerjaan wanita tidak pernah selesai. PEREMPUAN telah bekerja secara berlebihan dan mengalami kelelahan yang berat sejak beribu-ribu tahun. Ia seperti wanita kebanyakan, harus membawa pulang slip gaji seperti yang dilakukan ayah, tetapi masih harus mengurusi semua pekerjaan sebagi istri dan ibu.
Pernahkah Anda mendapati wajah anda terlihat tidak menarik seperti hari-hari sebelumnya? Pernahkah Anda merasa krisis percaya diri dengan sebab yang tidak jelas? Mengalami kelelahan kronis? Merasa sulit untuk tersenyum? Merasa begitu sensitif dan mudah marah? Tidak memedulikan penampilan seperti biasanya? Mengalami kemunduran dalam pergaulan?
Jika semua hal tersebut dibiarkan terus-terusan menghantui hari-hari tanpa mau berusaha untuk keluar dari masalah tersebut, akan semakin susah mengembalikan kepercayaan diri kembali, kata seorang konselor.
Menurutnya, masalah yang dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian, akan melahirkan masalah baru yang merusak cara berpenampilan, dan ujung-ujungnya, merasa terasing di pergaulan dan menutup diri dari semua orang.
Katakan stop dari gangguan-gangguan itu! Berhentilah menenggelamkan diri dalam perasaan yang tak jelas. Jangan menuruti semua perasaan dan jangan hanya menunggu sampai suasana hati menjadi normal kembali, karena itu justru sia-sia. Jangan juga mengandalkan orang lain untuk mengubah suasana hati, karena tidak ada yang akan selalu siap setiap saat menemani.
Tidak ada masalah yang tak bisa diselesaikan, selagi memiliki kemauan kuat untuk menjadi lebih baik, semua akan bisa teratasi. Tapi, ada baiknya mencari akar permasalahan dari gejala negatif yang sedang dialami. Temukan penyebab masalahnya.
KURANG TIDUR
Jangan pernah memaksakan tubuh terus-terusan beraktivitas atau berpikir. Sehingga, mengganggu jam istirahat. Masalah ataupun pekerjaan tidak akan pernah selesai mengisi kehidupan. Kita berhak menghentikan itu semua demi kebaikan. Diciptakan malam dan siang, untuk dipergunakan sebaik-baiknya. Siang untuk beraktivitas, malam untuk beristirahat. Mesin saja pasti akan cepat rusak apabila terus-terusan dipaksa bekerja. Begitu pula tubuh.
TIDUR SIANG HARI
Jangan biasakan tidur siang hari. Terkadang, tidur siang juga baik bagi tubuh. Tapi, waktunya harus diatur. Tidur siang yang terlalu lama, menyebabkan tubuh lemas. Sehingga, menyebabkan menjadi malas-malasan beraktivitas. Tidur siang yang baik untuk tubuh adalah setengah jam hingga satu jam saja. Lebih dari itu, bisa merusak sistem tubuh dan menjadi tidak produktif, ujarnya. Jauhi stres, kurangi aktivitas, banyak-banyak istirahat, makan makanan bergizi (suplemen), dan olahraga teratur. Mending kalau sudah capek banget, istirahat sebentar dengan memejamkan mata.
BOSANJika aktivitas rutin menjadi alasan, sudah waktunya pergi berlibur atau melakukan hobi yang sudah lama tidak dilakukan. Refreshing terbukti mampu meningkatkan kinerja dan produktivitas. Istilahnya, me-recharge otak dan pikiran, sehingga menghasilkan zat yang bisa menetralkan dari gangguan stres.
TUJUAN
Penting menetapkan tujuan dalam mengarungi kehidupan ini. Hidup tanpa tujuan, berarti menyia-nyiakan hidup. Tetapkanlah tujuan, buatlah sasaran yang ingin dicapai, tentukan langkah-langkah mencapainya. Realisasikanlah! Dengan menentukan itu, akan merasa lebih berarti dan bersemangat menjalani hari-hari.
http://ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/psiko/article/view/283
http://nusantara-chat1.forums-free.com/penyebab-wanita-stress-adalah-t72.html
Jurnal Psikologi Unair 2012 , vol 1, No. 2, 107-118
Basuki, A.M Heru. 2008. Psikologi Umum ; Seri Diktat Kuliah. Universitas Gunadarma