Jumat, 29 Mei 2015

Fenomena Stress pada Wanita





Wanita jaman sekarang bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh kaum pria. Perlu diketahui bahwa fenomena wanita berperan ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus bekerja diluar rumah, dan juga sebagai pemimpin wanita sebenarnya sudah ada sejak dulu. Pada awal abad 19, di luar negri yang sebelumnya berfungsi sebagai pekerja terampil pada usaha-usaha rumah tangga yang memproduksi sampai memasarkan mulai beralih. Dampak dari revolusi industri membuat wanita banyak berpaling untuk melakukan pekerjaan diluar rumah untuk menghidupi dan menambah penghasilan rumah tangga. 
Bekerja bagi setiap wanita adalah pilihan. Gerson (1985, dalam Nainggolan, dkk, 1996:78) menyatakan bahwa keputusan wanita untuk beerja dipengaruhi oleh faktor yang sifatnya komulatif, interaktif dan terus berkembang dipengaruhi baik secara langsung atau tidak dari masyarakat, keluarga dan diri sendiri sehubungan dengan harapan-harapan tertentu peran wanita yang sekaligus ibu. Keputusan untuk mengambil 2 peran berbeda yaitu di rumah tangga dan di tempat kerja tentu diikuti dengan tuntutan dari dalam diri sendiri dan masyarakat. Tuntutan dari diri sendiri dan sosial ini menyerukan hal yang sama yaitu keberhasilan dalam dua peranan tersebut.

Ada subuah penelitian yang menguji tentang perbedaan coping stres yaitu problem focused coping, emotion focused coping dan religion coping antara perawat pria dan perawat wanita. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah coping stres dan variabel bebasnya jenis kelamin. Skala coping stres disusun berdasarkan jenis-jenis coping yang dikemukakan oleh Carver, Scheier dan Weintraub (1989) serta Pargament (1997). Penelitian ini dilakukan pada 50 orang perawat pria dan 50 orang perawat wanita. Subjek penelitian ini adalah perawat yang berjenis kelamin pria dan wanita berusia antara 25-36 tahun dan telah bekerja minimal selama 6 bulan. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan uji Independent Sample t Test, diketahui bahwa untuk problem focused coping sebesar 0.682 (p > 0.05), emotion focused coping 0.473 (p > 0.05), dan religion coping sebesar 0.289 (p > 0.05) Dari nilai tersebut, maka dapat dikatakan hipotesis penelitian ini ditolak yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan pada pemilihan coping stres baik itu problem focused coping, emotion focused coping, dan religion coping pada perawat pria dan perawat wanita
PEREMPUAN hidup di dunia yang cepat dan penuh tuntutan, dan sangat berbeda saat kecil. Semua orang berkata, pekerjaan wanita tidak pernah selesai. PEREMPUAN telah bekerja secara berlebihan dan mengalami kelelahan yang berat sejak beribu-ribu tahun. Ia seperti wanita kebanyakan, harus membawa pulang slip gaji seperti yang dilakukan ayah, tetapi masih harus mengurusi semua pekerjaan sebagi istri dan ibu.

Pernahkah Anda mendapati wajah anda terlihat tidak menarik seperti hari-hari sebelumnya? Pernahkah Anda merasa krisis percaya diri dengan sebab yang tidak jelas? Mengalami kelelahan kronis? Merasa sulit untuk tersenyum? Merasa begitu sensitif dan mudah marah? Tidak memedulikan penampilan seperti biasanya? Mengalami kemunduran dalam pergaulan?

Jika semua hal tersebut dibiarkan terus-terusan menghantui hari-hari tanpa mau berusaha untuk keluar dari masalah tersebut, akan semakin susah mengembalikan kepercayaan diri kembali, kata seorang konselor.

Menurutnya, masalah yang dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian, akan melahirkan masalah baru yang merusak cara berpenampilan, dan ujung-ujungnya, merasa terasing di pergaulan dan menutup diri dari semua orang.

Katakan stop dari gangguan-gangguan itu! Berhentilah menenggelamkan diri dalam perasaan yang tak jelas. Jangan menuruti semua perasaan dan jangan hanya menunggu sampai suasana hati menjadi normal kembali, karena itu justru sia-sia. Jangan juga mengandalkan orang lain untuk mengubah suasana hati, karena tidak ada yang akan selalu siap setiap saat menemani.

Tidak ada masalah yang tak bisa diselesaikan, selagi memiliki kemauan kuat untuk menjadi lebih baik, semua akan bisa teratasi. Tapi, ada baiknya mencari akar permasalahan dari gejala negatif yang sedang dialami. Temukan penyebab masalahnya.

KURANG TIDUR

Jangan pernah memaksakan tubuh terus-terusan beraktivitas atau berpikir. Sehingga, mengganggu jam istirahat. Masalah ataupun pekerjaan tidak akan pernah selesai mengisi kehidupan. Kita berhak menghentikan itu semua demi kebaikan. Diciptakan malam dan siang, untuk dipergunakan sebaik-baiknya. Siang untuk beraktivitas, malam untuk beristirahat. Mesin saja pasti akan cepat rusak apabila terus-terusan dipaksa bekerja. Begitu pula tubuh.

TIDUR SIANG HARI
Jangan biasakan tidur siang hari. Terkadang, tidur siang juga baik bagi tubuh. Tapi, waktunya harus diatur. Tidur siang yang terlalu lama, menyebabkan tubuh lemas. Sehingga, menyebabkan menjadi malas-malasan beraktivitas. Tidur siang yang baik untuk tubuh adalah setengah jam hingga satu jam saja. Lebih dari itu, bisa merusak sistem tubuh dan menjadi tidak produktif, ujarnya. Jauhi stres, kurangi aktivitas, banyak-banyak istirahat, makan makanan bergizi (suplemen), dan olahraga teratur. Mending kalau sudah capek banget, istirahat sebentar dengan memejamkan mata.

BOSANJika aktivitas rutin menjadi alasan, sudah waktunya pergi berlibur atau melakukan hobi yang sudah lama tidak dilakukan. Refreshing terbukti mampu meningkatkan kinerja dan produktivitas. Istilahnya, me-recharge otak dan pikiran, sehingga menghasilkan zat yang bisa menetralkan dari gangguan stres.

TUJUAN

Penting menetapkan tujuan dalam mengarungi kehidupan ini. Hidup tanpa tujuan, berarti menyia-nyiakan hidup. Tetapkanlah tujuan, buatlah sasaran yang ingin dicapai, tentukan langkah-langkah mencapainya. Realisasikanlah! Dengan menentukan itu, akan merasa lebih berarti dan bersemangat menjalani hari-hari.


http://ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/psiko/article/view/283
http://nusantara-chat1.forums-free.com/penyebab-wanita-stress-adalah-t72.html
Jurnal Psikologi Unair 2012 , vol 1, No. 2, 107-118
Basuki, A.M Heru. 2008. Psikologi Umum ; Seri Diktat Kuliah. Universitas Gunadarma

Rabu, 27 Mei 2015

Hubungan antara Kesehatan Mental dengan Religiusitas

Penelitian tentang pengaruh agama dan spiritualitas pada kesehatan mental meningkat dan menjadi lebih halus, ada kurangnya studi empiris efek-efek pada anak-anak (Spilka et al., 2003). Benson, Roehlkepartain, dan Rude (2003) disurvei database ilmu sosial dan menemukan bahwa kurang dari 1% dari artikel tentang anak-anak atau remaja diperiksa spiritualitas atau perkembangan spiritual. Penelitian telah menemukan hubungan negatif antara religiusitas dan gejala psikotik pada anak-anak (Francis, 1994), serta gejala depresi (Miller, Warner, Wickramatne, & Weissman, 1997) dan kecemasan (Schapman & Inderbitzen-Nolan, 2002), meskipun di sini lagi ada beberapa pengecualian untuk generalisasi ini. Dalam keadaan ini, penulis sering menunjuk gaya pengasuhan otoriter agama membatasi dan kaku, di mana rasa bersalah dan perilaku berlebihan terlarang mempengaruhi pandangan dunia yang masih lunak (misalnya, Josephson, 1993). Namun, bahkan jika agama keluarga konservatif lebih cenderung untuk menggunakan ancaman atau hukuman fisik, mereka juga lebih mungkin untuk memeluk dan memuji anak-anak mereka (Wilcox, 1998). Selain itu, jemaat sama konservatif yang sering menyertai seperti keyakinan pribadi yang kuat cenderung menghasilkan rasa positif masyarakat dan dukungan sosial (Mahoney & Tarakeshwar, Bab 10, buku ini). Ada bukti bahwa depresi yang diderita di masa kecil dapat menyebabkan penurunan atau terdistorsi bentuk religiusitas di masa dewasa, yang mungkin menunjukkan bahwa dasar dari kesejahteraan psikologis diperlukan di masa kecil untuk menimbulkan kepatuhan spiritual atau agama yang kuat dan protektif sebagai orang dewasa (Miller, Weissman , Gur, & Adams, 2002).
 
Beberapa teoritis berasal, model tahap perkembangan yang ada, di mana transisi dari masa kanak-kanak dan dewasa muda, bersama dengan integrasi sosial dan intelektual, diperiksa melalui prisma keterlibatan agama atau kompleksitas kepercayaan (lihat Sperry, 2001, untuk review model ini , serta Boyatzis, Bab 7, buku ini). Ini paradigma developmentalisme, kemudian, adalah kebalikan dari apa yang ditemukan dalam psikologi agama keseluruhan: untuk anak-anak dan remaja, banyak yang melihat perkembangan tetapi tidak memiliki investigasi empiris, sedangkan tubuh penelitian dewasa terlalu sering terlihat di snapshot, lintas -sectional fokus, dengan aktivitas perkembangan sedikit menyumbang (Gorsuch, 1988).

Dilihat dari perspektif keluarga, anak-anak telah ditemukan untuk menjadi lebih dekat dengan ibu yang melaporkan menghadiri gereja lebih sering (Pearce & Axinn, 1998), faktor yang juga memberikan kontribusi untuk kepuasan yang lebih tinggi dengan kehidupan pada anak (Varon & Riley, 1999 ). Keluarga agama secara umum telah ditemukan untuk memberikan pengaruh melalui jenis disiplin dan agama interpretasi yang mereka gunakan (lihat Spilka et al., 2003, untuk review). Namun, karena anak-anak yang ibunya menderita depresi telah ditunjukkan untuk menampilkan tingkat yang lebih rendah religiusitas, dan karena bentuk-bentuk khusus depressogenic spiritualitas telah ditemukan pada keturunan dewasa ibu depresi, mungkin bahwa tumbuh dalam lingkungan kekurangan harapan dan kebahagiaan mendistorsi arti anak dari spiritual (Gur, Miller, & Weissman, 2004). Kirkpatrick dan Shaver (1990) postulat "hipotesis kompensasi," di mana anak-anak yang dibesarkan dengan gaya lampiran tidak aman dengan orang tua mereka menemukan pelipur lara dalam pengertian yang penuh kasih dan pribadi Allah, ini tampaknya sangat relevan bagi anak-anak dari rumah nonreligius, dan telah menerima beberapa dukungan empiris.
 
Sebaliknya, Kaca, Bengtson, dan Dunham (1986) menunjukkan bahwa spiritualitas anak-anak dari rumah nonreligius sering lebih tinggi dari orang tua mereka, dan bahwa spiritualitas anak dapat mempengaruhi orang dewasa sama mudahnya seperti sebaliknya, menyiratkan bahwa asal spiritualitas anak tidak sepenuhnya proses sosialisasi, tapi bisa berupa bawaan atau perpanjangan jenis lain pemikiran supranatural. Sehubungan dengan kemungkinan pembawaan sejak lahir, ada dukungan empiris untuk gagasan spiritualitas yang melekat atau religiusitas, khususnya yang menyangkut konstruk pengabdian pribadi. Kendler dan rekan '(1997) studi menemukan bahwa dimensi rasa pribadi koneksi ke Allah berkorelasi cukup (r = .33) dengan kepatuhan dekat dengan keyakinan agama dan lemah (r = .18) dengan denominasi agama, menunjukkan bahwa hubungan spiritual yang kuat kepada Allah ada baik di dalam maupun di luar ketaatan agama komunal. Selanjutnya, dalam penelitian ini, analisis diwariskan versus kontribusi lingkungan menjadi antara orang-ragam menunjukkan bahwa 29% dari perbedaan antara perempuan mendukung item yang mencerminkan pengabdian pribadi dapat dijelaskan oleh heritabilitas luas. Sejauh bahwa perbedaan di antara kita dijelaskan oleh faktor keturunan, entitas yang sangat sendiri tampaknya menjadi bagian dari sifat dasar kita, memberikan beberapa bukti genetik untuk keberadaan spiritualitas yang melekat. D'Onofrio, Eaves, Murrelle, Maes, dan Spilka (1999) memperluas penelitian ini dengan 14.781 kembar dari "Virginia 30.000" epidemiologi kumpulan data, dan menemukan bahwa meskipun afiliasi adalah proses ditransmisikan budaya, sikap dan praktik keagamaan yang cukup dipengaruhi oleh faktor genetik (akuntansi untuk 40-50% dari varians dalam religiusitas), atas dan di luar variabel ciri kepribadian. Miller, Weissman, Gur, dan Adams (2001) studi tentang spiritualitas anak-anak pecandu opiat menunjukkan bahwa anak-anak delapan kali lebih mungkin untuk mendukung spiritualitas sebagai pribadi penting daripada yang ibu mereka, menunjukkan bahwa anak-anak yang dimilik independen dan mungkin bawaan koneksi ke realitas spiritual, atau bahwa mereka telah "melemparkan jaring yang luas" di seluruh pengalaman religius dan spiritual dengan menyalahgunakan dan nonabusing dewasa, pada dasarnya menggunakan sosialisasi keagamaan selektif, dan telah berasimilasi akhirnya pemahaman sehat spiritualitas.
 
Mengenai interpretasi kemudian Glass dkk 's. (1986) menemukan disajikan di atas, anak-anak telah ditemukan untuk menunjukkan berbagai pemikiran magis, dan ide-ide supranatural atau asumsi sering agama di alam, atau formulasi agama mengkooptasi dari lingkungan sekitarnya dewasa anak (Rosengren & Johnson, 2000). Apakah keyakinan ini sering literal menenangkan jiwa anak atau sumber kecemasan kemungkinan ditentukan oleh dukungan dan interpretasi mereka diberikan oleh orang tua dan masyarakat yang dinamis. Jadi, sementara data empiris terkadang saling bertentangan atau ambigu mengenai efek protektif religiusitas atau spiritualitas pada anak-anak, sebagian dari beberapa studi yang meneliti hubungan ini menunjukkan bahwa keluarga agama atau kepercayaan sistem buffer yang efektif melawan berbagai jenis anak psikopatologi, yang konsisten dengan klinis, laporan anekdotal anak spiritual dan agama coping.
 
Jalaludin. 2007. Psikologi Agama. Jakarta: Rajja Grafindo 
 http://psykologimanusia.blogspot.com/2013/07/hubungan-religiosity-and-spirituality.html
http://eprints.iainsalatiga.ac.id/190/1/
 Subandi, M. A. 2013. Psikologi Agama & Kesehatan Mental. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.