19513947
2PA02
#PINTERNET
- Psikoterapi Via Internet
Menurut Profesor Mark Griffiths, psikoterapi atau obat bisa menjadi solusinya. “Sangat penting untuk membedakan antara orang yang ketergantungan pada internet dan mereka yang telah ketagihan online,” ujarnya
“Saya percaya ini merupakan hal yang berbeda, jika menjadi pecandu aplikasi online tertentu, seperti game, perjudian dan belanja. Ini merupakan kecanduan dalam internet daripada pada internet itu sendiri dan harus diperlakukan berbeda,” jelas Mark.
Seperti halnya pengobatan, menurut Mark, ini sama pentingnya untuk memahami penyebab kecanduan tersebut. “Orang bisa menderita rendah diri yang mengarahkan mereka, untuk menciptakan personal online dan bukannya berinteraksi secara offline. Maka pada kasus ini, pengobatan apapun harus fokus pasa peningkatan harga diri,” katanya.
Menurut Mark, orang yang sangat baik di game online, bisa mendapatkan hadiah dari keberhasilan mereka dan dipuji. Maka mereka juga harus menemukan kegiatan lain yang memberikan pengahargaan atau hadiah yang sama.
Untuk melakukan pengobatan untuk kecanduan juga tersedia berbagai macam perawatan, yang menurut Mark bisa melalui psikoterapi, di mana mereka berbicara tentang masalah yang mendasarnya.
“Meskipun begitu, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa satu pengobatan lebih baih daripada yang lainnya dan kebanyakan orang akan mengambil pendekatan multimodal,” tandas Mark.
Beberapa cara yang bisa mengtasi kecanduan internet antara lain, seperti memperlakukan internet sebagai alat yaitu tetap fokus pada kenyataan bahwa internet merupakan sarana untuk mencpai tujuan, serta tetap terhubung ke dunia offline.
Proses Konseling Online
1. Tahap
I (Persiapan)
Tahap persiapan mencakup aspek
teknis penggunaan perangkat keras (hardware)
dan perangkat lunak yang mendukung penyelenggaraan konseling online.
Seperti perangkat komputer/laptop yang dapat terkoneksi dengan
internet/Ethernet, headset, mic, webcam dan sebagainya. Perangkat lunak yaitu
program-program yang mendukung dan akan digunakan, account dan alamat
email. Selain itu juga kesiapan Konselor dalam hal ketrampilan, kelayakan
akademik, penilaian secara etik dan hukum, kesusuaian isu yang akan dibahas,
serta tata kelola.
2. Tahap
II ( Proses Konseling)
Tahapan konseling online tidak jauh
berbeda dengan tahapan proses konseling face-to-face (FtF).
tahapan (Prayitno. 2004) yaitu terdiri atas lima tahap yakni tahap,
pengantaran, penjajagan, penafsiran, pembinaan dan penilaian namun dalam
pelaksanaannya “kontinum fleksibel” dimana saling berhubungan dan bersambung
sesuai tahap dan lebih terbuka untuk dimodifikasi, mulai dari tahap awal sampai
tahap akhir, juga penggunaan teknik-teknik umum dan khusus tidak secara penuh
seperti penyelenggaraan konseling secara langsung. Pada sesi konseling oneline
lebih menekankan pada terentasnya masalah klien dibandingkan dengan cara bentuk
pendekatan, teknik dan atau terapi yang digunakan. Pada tahapan ini pemilihan
teknik, pendekatan dan ataupun terapi akan disesuaikan dengan masalah yang dihadapi
oleh klien.
3
Tahap III ( Pasca
Konseling)
Tahap
tiga yaitu tahap pasca proses konseling online. Pada tahap ini merupakan
lanjutan dari tahapan sebelumnya dimana setelah dilakukan penilaian maka yang
pertama (1) konseling akan sukses dengan ditandai dengan kondisi klien yang KES
(effective daily living- EDL) (2) Konseling akan dilanjutkan ada sesi
tatap muka (Face to Face-FtF) (3) Konseling akan dilanjutkan pada sesi
konseling online berikutnya dan (4) klien akan direferal pada Konselor lain
atau ahli lain
Haberstroh, S et al. (2008): Facilitating Online Counseling: Perspectives From
Counselors in Training, Journal of Counseling and Development : JCD; Fall 2008;
86, 4; ABI/INFORM Global pg. 460
Mbonu, NC., (2009): Stigma of People with HIV/AIDS in Sub-Saharan Africa: A
Literature Review, Hindawi Publishing Corporation Journal of Tropical Medicine
Volume 2009, Article ID 145891, 14 pages doi:10.1155/2009/145891
Tidak ada komentar:
Posting Komentar