Anisa Alyela
19513947
3PA02
Pengertian Client Center
Carl R. Rogers mengembangkan terapi clien centered sebagai reaksi
terhadap apa yang disebutnya keterbatasan- keterbatasan mendasar dari
psikoanalisis. Pada hakikatnya, pendekatan client centererd adalah cabang dari
terapi humanistik yang menggaris bawahi tindakan mengalami klien berikut dunia
subjektif dan fenomenalnya. Pendekatan client centered ini menaruh kepercayaan
yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan
arahnya sendiri. Menurut Rogers yang dikutip oleh Gerald Corey menyebutkan
bahwa: terapi client centered merupakan tekhnik konseling dimana yang paling
berperan adalah klien sendiri, klien dibiarkan untuk menemukan solusi mereka
sendiri terhadap masalah yang tengah mereka hadapi. Hal ini memberikan
pengertian bahwa klien dipandang sebagai partner dan konselor hanya
sebagai pendorong dan pencipta situasi yang memungkinkan klien untuk bisa
berkembang sendiri.
Sedangkan menurut Prayitno dan Erman Amti terapi client centered
adalah klien diberi kesempatan mengemukakan persoalan, perasaan dan pikiran-
pikirannya secara bebas. Pendekatan ini juga mengatakan bahwa seseorang
yang mempunyai masalah pada dasarnya tetap memiliki potensi dan mampu
mengatasinya maslah sendiri. Jadi terapi client centered adalah terapi yang berpusat
pada diri klien, yang mana seorang konselor hanya memberikan terapi serta
mengawasi klien pada saat mendapatkan pemberian terapi tersebut agar klien
dapat berkembang atau keluar dari masalah yang dihadapinya.
Tahapan Terapi Client Center
Tahapan konseling berpusat pada person menurut Boy dan Pine (1981) jika
dilihat dari apa yang dilakukan konselor dapat di buat dua tahap. Pertama,
tahap membangun hubungan terapeutik, menciptakan kondisi fasilitatif dan
hubungan yang subtantif seperti empati, kejujuran, ketulusan, penghargaan dan
positif jtanpa syarat. Tahap Kedua, tahap kelanjutan yang disesuaikan
dengan efektifitas hubungan disesuaikan dengan kebutuhan klien.
Sedangkan jika dilihat dari segi pengalaman klien dalam proses hubungan
konseling dapat di jabarkan bahwa proses konseling dapat di bagi menjadi empat
tahap, yaitu:
1. Klien datang ke konselor dalam kondisi tidak kongruensi, mengalami
kecemasan, atau kondisi penyesuaian diri tidak baik.
2. Saat klien menjumpai konselor dengan penuh harapan dapat memperoleh
bantuan, jawaban atas permasalahan yang hsedang dialami, dan menemukan jalan
atas kesulitan- kesulitannya.
3. Pada awal konseling klien menunjukkan perilaku, sikap, dan
perasaannya yang kaku. Dia menyatakan permasalahan yang dialami kepada konselor
secara permukaan dan belum menyatakan pribadi yang dalam.
4. Klien mulai menghilangkan sikap dan perilaku yang kaku, membuka diri
terhadap pengalamannya, dan belajar untuk bersikap lebih matang dan lebih
teraktualisasi, dengan jalan menghilangkaln pengalaman yang dialaminya.
Tekhnik terapi Client Center
Secara garis besar tekhnik terapi Client- Centered yakni : Konselor menciptakan suasana komunikasi antar pribadi yang merealisasikan segala
kondisi. Konselor menjadi seorang pendengar yang sabar dan peka, yang
menyakinkan konseli dia diterima dan dipahami. Konselor memungkinkan
konseli untuk mengungkapkan seluruh perasaannya secara jujur, lebih memahami
diri sendiri dan mengembangkan suatu tujuan perubahan dalam diri sendiri dan
perilakunya.
Daftar
Pustaka
Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan
Psikoterapi, (Bandung : Refika Aditama, 2009), h.91
Prayitno dan Erman Amti, Dasar- Dasar Bimbingan Konseling (
Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2004) h. 300
Tidak ada komentar:
Posting Komentar