Anisa Alyela
19513947
3PA02
Sejarah Psikologi Transpersonal
19513947
3PA02
Sejarah Psikologi Transpersonal
Psikologi
Transpersonal merupakan aliran baru dalam Psikologi. Psiklogi
Transpersonal mendeklarasikan diri
sebagai Madzhab Ke Empat Psikologi.
Psikologi transpersonal, yang sekarang diperkenalkan sebagai madzhab keempat
dalam lapangan psikologi, memulai khususnya ditingkat universitas, juga
menjalar di dunia pendidikan. Tahun 1969, jurnal Psikologi transpersonal
diterbitkan. Tahun 1973, perkumpulan psikologi transpersonal pertama mengadakan
konsferensi di Meulo Park, California. Pada tahun yang sama juga diadakan
konsferensi psikologi transpersonal dan pendidikan, di universitas Northerm,
Illionis, banyak para pendidik tertarik tentang psikologi transpersonal yang
berasal dari berbagai negara.
Konsep utama
manusia menurut Psikologi Transpersonal, bahwa manusia tidak hanya mempunyai
kesadaran psiko-fisis, psko-kognitif atau psikohumanistik, namun juga manusia
mempunyai kesadaran yang terdalam dan tinggi sifatnya.
Psikologi Transpersonal dikembangkan
pertama kali oleh para ahli yang sebelumnya mengkaji secara mendalam
bidang humanistik seperti Abraham Maslow, C.G. Jung, Victor Frankl,
Antony Sutich, Charles Tart dan lainnya. Dengan melihat dari para tokoh
awalnya maka dapat diketahui bahwa psikologi transpersonal merupakan
turunan langsung dari psikologi humanistik. Yang membedakan antara
psikologi humanistik dan psikologi transpersonal adalah didalam
psikologi transpersonal lebih menggali kemampuan manusia dalam dunia
spiritual, pengalaman puncak, dan mistisme yang dialami manusia.
Beberapa kalangan berpendapat bahwa bidang spiritualitas dan kebatinan
hanya didominasi oleh para ahli-ahli agama dan juga praktisi mistisme,
namun ternyata dalam perkembangannya, kesadaran akan hal ini dapat
diaplikasikan dan dibahas dalam ilmu pasti.
Pengertian Psikologi Transpersonal
Psikologi Transpersonal diartikan sebagai suatu studi
terhadap potensi tertinggi umat manusia dan dengan pengakuan, pemahaman dan
perealisasian keadaan-keadaan kesadaran yang mempersatukan antara spiritual dan
transenden.
Noesjirwan (2000) mendefinisikan Sutich (dalam Noesjirwan,
2000) mengartikan psikologi transpersonal adalah nama yang diberikan kepada
kekuatan yang baru timbul dalam bidang psikologi, dibentuk oleh sejumlah
psikolog, ahli-ahli pria dan wanita dari bidang lain yang mempunyai perhatian terhadap
kemampuan-kemampuan dan kesanggupankesanggupan tertinggi manusia yang selama
ini tidak dipelajari secara sistematis oleh psikologi perilaku atau teori-teori
psikoanalisis yang klasik maupun yang oleh psikologi humanistik. Psikologi
transpersonal secara khusus memberikan perhatian kepada studi ilmiah yang
empiris dan kepada implementasi yang bertanggung jawab dari penemuan-penemuan
yang relevan bagi pengaktualisasian diri, transendentasi diri, kesadaran
kosmis, fenomenafenomena transendental yang terjadi pada (atau dialami oleh)
perorangan-perorangan atau sekelompok orang.
Konsep-konsep dasar psikologi transpersonal
Menurut jhon davis Ph.d
(dosen psikologi transpersonal di departemen metropolitan state college denver
ada 6 konsep dasar psikologi transpersonal:
1. Pengalaman puncak, yakni istilah yang
mula-mula dipakai oleh maslow. Ia bermaksud meneliti pengalaman mistikal serta
pengalaman-pengalaman lain pada keadaan kesehatan psikologis yang optimal,
tetapi ia merasa bahwa konotasi-konotasi keagamaan dan spiritual akan terlalu
membatasi. Oleh karena itu mulai menggunakan pengalaman puncak sebagai istilah
yang netral. Penelitian tentang pengalaman puncak telah mengidentifikasi
frekuensi, factor-faktor pemicu, factor-faktor psikososial, yang berkaitan
dengannya, dan konsekuensi dari pengalaman puncak.
2. Transendensi diri, yakni keadaan yang disitu
rasa tentang diri meluas melalui defenisi-defenisi sehari-hari dan citra-citra
diri kepribadian individual bersangkutan. Transendensi diri mengacu langsung
akan suatu koneksi, harmoni atau kesatuan yang mendasar dengan orang lain dan
dengan alam semesta.
3. Kesehatan optimal, yang melampaui apa yang
dimungkinkan dalam pendekatan-pendekatan lain dalam psikologi. Kesehatan jiwa
biasanya dilihat sebagai penanganan yang memadai dari tuntutan-tuntutan
lingkungan dan pemecahan konflik-konflik pribadi, namun pandangan psikologi
transpersonal juga memasukan kesadaran, pemhaman diri, dan pemenuhan diri.
4. Kedaruratan spiritual, yakni suatu pengalaman
yang mengganggu yang disebabkan oleh suatu pengalaman (atau ‘kebangkitan”)
spiritual. Pada umumnya, psikologi transpersonal berpendapat bahwa
krisis-krisis psikologis dapat menjadi bagian dari suatu kebangkitan yang sehat
dan bahwa kejadian-kejadian itu tidak selalu merupakan tanda-tanda
psikopatologi.
5. Spektrum perkembangan, yakni suatu
pengertian yang memasukkan banyak konsep psikologi dan filsafat kedalam
kerangka transpersonal. Secara filosofis, model ini adalah contoh dari filsafat
perennial. Pandangan ini mengisyaratkan adanya tingkatan-tingkatan realitas
dari tingkat material melalui tingkat yang berturutan mencakup
sifat-sifat dari tingkat-tingkat sebelumnya bersama-sama sifat-sifat yang
muncul.
6. Meditasi, yakni berbagai praktek untuk
memusatkan atau menenangkan proses-proses mental dan memupuk keadaan
transpersonal. Sama seperti conditioning merupakan metode kunci dalam
behaviorisme, interprestasi serta katarsis merupakan metode kunci dalam
psikoanalisa, maka meditasi adalah metode kunci bagi metode psikologi
transpersonal
Terapi Transpersonal
Dalam psikologi transpersonal, terapi
yang dikembangkan akan berhubungan dengan ritual-ritual yang dijalankan dalam
tradisi-tradisi keagamaan. Cara pandang yang holistik, terutama dari mistik Timur,
pada akhirnya membawa siginifikansi akan adanya pengaruh yang sangat kuat
antara tubuh, pikiran dan jiwa. Apa yang memanifetasi dalam tubuh fisik,
sebenarnya gambaran keadaan tubuh mentalnya. Demikian juga sebaliknya, gangguan
fisik yang terjadi seringkali memengaruhi kondisi mental seseorang.
Dari sini kemudian penurunan lebih lanjut dari
terapi dalam psikologi transpersonal adalah bagaimana agar si pasien bisa
menyadari kondisi dirinya sendiri, kondisi pikiran dan tubuhnya. Langkah
penyadaran diri ini ditempuh dengan pertama kali seorang klien mengidentifikasi
proses dan mekanisme di dalam tubunya secara sadar. Terapi seperti ini
dinamakan biofeedback. Pada daerah-daerah tertentu dipasang sensor elektronik,
misalnya pada otot-otot tubuh. Sinyal elektronik ini diamplikasi menjadi bunyi
atau nyala lampu, sehingga klien bisa melihat dan mendengar perubahan-perubahan
yang terjadi, baik dalam kondisi normal ataupun abnormal, manakala ia
memberikan semacam perubahan dalam proses fisiologi internal dirinya. Dalam
beberapa penelitian, terbukti biofeedback sangat efektif untuk tujuan relaksasi
tubuh. Menurunkan tingkat stress, dan gangguan-ganguan psikosomatis. Jantung
berdebar, napas tidak teratur, tekanan darah tinggi adalah jenis-jensi penyakit
psikosomatis yang berhasil disembuhkan dengan terapi ini. Jenis terapi lainnya
dengan tujuan yang sama, untuk relaksasi, ialah meditasi. Tentunya ada beberapa
tingkatan meditasi, mulai dari hanya mengatur irama napas, sampai kepada
meditasi tingkat tinggi yang membuka kesadaran-kesadaran di luar kondisi normal
(altered states of consciousness).
Ada juga terapi medan energi, seperti
chikung, chkara, aura, yang merupakan badan energi atau benda mental yang juga
sekaligus menggambarkan kondisi kesehatan mental seseorang. Biofeedback dan
meditasi adalah jenis-jenis psikoterapi yang sangat umum dipakai oleh para ahli
psikologi transpersonal. Tapi ada kecenderungan belakangan ini, terapi yang
dipakai sudah agak meluas. Misalnya di Anand Ashram, selain meditasi dan yoga,
juga dibarengi dengan terapi menggunakan musik, terutama musik-musik religius,
wangi-wangian (aromaterapi) dan visualisasi. Bahkan lebih jauh lagi,
teknik-tenik yang biasa digunakan oleh para mistikus dari agama-agama lainnya,
juga digunakan untuk terapi mental, seperti zikir, bacaan Kitab Suci, mantra,
doa dll.
Erba Rozalina Yulianti, Buku Pegangan Psikiologi Transpersonal :
jilid I (Fakultas Ushuluddin, Universitas Isalam Negeri Sunan Gunung Djati),
hlm. 4.
Ujam Jaenuddin, Psikologi Transpersonal, (Bandung:
Pustaka Setia, 2012), hlm. 26
Erba Rozalina Yulianti, Buku Pegangan Psikiologi Transpersonal…, hlm.
5
Erba Rozalina Yulianti, Buku Pegangan Psikiologi Transpersonal…, hlm.
7-8.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar